Results (
English) 1:
[Copy]Copied!
anak lelaki Anna, Louis, dananak lelaki Raja, Putra Mahkota Chulalongkorn, pada saat yang bersamaan tetapi yangmelakukan adalah orang tuanya. Dekonstruksi resiprokal ini dilakukan melalui media buku dancerutu. Buku adalah simbol pengetahuan dan cerutu adalah simbol kepuasan laki-laki. BukuUncle Tom’s Cabin menyimbolkan Anna sedangkan cerutu menyimbolkan Raja. Buku mengacuke pemikiran Barat modern sedangkan cerutu mengacu ke pemikiran tradisional Timur.Keinginan Anna untuk mendekonstruksi tradisi perbudakan di Siam menemukan momenemasnya dalam peristiwa La Ore. Putra Mahkota yang menyaksikan secara tidak sengajakondisi fisik La Ore setelah dipukuli majikannya yang kejam menimbulkan pertanyaan tentangmajikan dan budak dalam diri Putra Mahkota yang masih kanak-kanak tersebut. Tidak bisamenjawab dengan tepat pertanyaan kritis Putra Mahkota tentang dua klas sosial yang berbedatersebut, Anna memberikan buku Uncle Tom’s Cabin. Akan tetapi, tindakan Anna ini dianggapterlalu dini oleh Raja: “Chulalongkorn has many questions, but one cannot plow fields overnight... even when soil is ripe to do so” (Hand, 1999: 126). Anna dapat memahami keberatan Rajaatas tindakannya yang terlalu cepat. Di sini agresivitas Anna terdekonstruksi.Melihat anak lelakinya terdekonstruksi melalui buku, Raja mendekonstruksi Louis, yangmerupakan produk budaya Barat modern, dengan cerutu. Tawaran cerutu dari Raja benar-benarmenggoda Louis meskipun mendapat tentangan keras dari Anna yang mengatakan Louis masihterlalu muda (Hand, 1999: 124). Bagaimanapun juga, Louis tetap sembunyi-sembunyi mencobacerutu yang diberikan oleh Putra Mahkota yang berakibat Louis menjadi mabuk (Hand, 1999:134). Dengan demikian, Louis terdekonstruksi. Pendidikan Baratnya yang rasionalterdekonstruksi oleh kesenangan diri Timur. Pencerahan pikiran ala Barat dan kesenanganbadaniah ala Timur saling mendekonstruksi. Dekonstruksi resiprokalitas ini juga terjadi pada paraorang tua mereka. Agresivitas Anna bagi perubahan Siam dan keterlalu-hati-hatian Raja dalammenghadapi masa depan Siam saling terdekonstruksi.Dekonstruksi oleh Diri Sendiri: Koleksi Arloji dan Perlengkapan Sains RajaRaja Mongkut bukannya tidak sadar atas efek tidak baik dari konsep waktu Siam yang unik:“Everything has its own time” (Hand, 1999: 22). Menghadapi modernisasi dan kontak takterhindarkan dengan negara/budaya asing, konsep waktu Siam ini akan merugikan. Akan tetapi,perubahan yang drastis pada negara yang masih kental nilai tradisionalnya menurut Rajasangatlah tidak bagus. Obsesi Raja untuk mendekonstruksi konsep waktu tradisional di Siamdisimbolkan dengan banyaknya arloji yang dimiliki Raja (Hand, 1999: 27). Secara simbolis, Rajaingin mendekonstruksi konsep waktu Siam yang tidak pasti secara bertahap bermula dari sendirisebelum diterapkan ke luar.Raja, demi kemajuan negaranya, juga ingin mendekonstruksi diri sendiri dalam hal keterbatasanpengetahuan. Akan tetapi, kehati-hatian membuat Raja takut melakukan perubahan yang drastisdalam masalah sains dan pengetahuan. Sebelum Raja mulai mendekonstruksirakyat/negaranya, ia memulainya dengan mendekonstruksi diri sendiri. Hal ini disimbolkandengan peralatan sains pribadi (Hand, 1999: 28) yang dikoleksinya dan dipelajarinya tanpa lelah.
Being translated, please wait..
