Results (
English) 1:
[Copy]Copied!
THE PARISH OF HAYAM WURUK WHO KUKENAL I have a special right to serve the parish of St. Anthony in the JI. HaYam Wuruk terrain, from 1972 until 1983. This is because maintenance of the Lord so that I can land in Indonesia as one of the missionaries and spent more than 30 years of life and do my mission to work in the Archdiocese of Medan.As a Jesuit student from India, the people I volunteered to go and bermissi in Malaysia after the lesson of philosophy in India and I happened to pass through the pastoral year (TOP) in Kuala Lumpur a year 1966-1967. But with respect to immigration is therefore a new system, I could not stay in Malaysia within Iama, so Superior/my boss sent me to Indonesia to carry out lessons Theology with the hope that after the ordination of priests, I was able to return to Malaysia to work on my mission.Unfortunately I can't go back there, and God chose Indonesia as a land of my mission. True true that "our way is not the way of the Lord".Now I will briefly do relate to cobs of the parish of Hayam Wuruk who I know and share the experience of my life for as long as 12 years hard time there.I first landed in Indonesia pd in May 1967 and soon learn the language of Indonesia in Jakarta in preparation for Teology at High St. Paul Seminary in Jogjakarta, and while I am studying theology in Yogyakarta I immediately read about the Roman Catholic Archdiocese of Medan and the object of India that Migrant people living there. Therefore, with the permission of the supervisor, I am visiting Medan in December 1968 for a vacation and I was received warmly by Bishop Van Den Hurk OFM Cap, and I was allowed to live in the parish of Hayam Wuruk for 3 weeks and accompanied by two people in the past namely pastor Pastor and Pastor Timmermans Maximus Brans. some of the Catholic community of India from Kp. Christian came to my menyalam and introduce them and that's the first time I am able to communicate with the parish of JI. Hayam Wuruk.And as the basis of a genuine community of India in the Field or to the birth of the parish of Hayam Wuruk, very little documentation exists. However, there are some oral traditions about the history of the Tamil people who live and work around the Deli Serdang and diperkebunan at the end of the century ke19 was formed on the bottom line for the birth of the parish of Hayam Wuruk.According to the elders of the community of India, some of these families were taken directly from South India-Tamilnadu by Pandichery and thus the French but the others seem to come from Penang Malaysia after working here for some time.Diantara orang orang India itu,beberapa keluarga Katolik dipekerjakan oleh Perusahaan Perancis di perkebunan Tembakau Deli di daerah Sei Sikambing dipinggiran Kota Medar Sebagai bagian dad kepercayaan iman mereka,perusahaan menyiapkan sebuah kapel dimana keluarga Katolik dapat bertemu dan dapat memperoleh pelayanan agama yang dilayani dengan bahasa daerahnya (Tamil) pada setiap had Minggu.Kadang kadang ada beberapa kunjungan pastor untuk merayakan Misa Kudus dalam bahasa Tamil membuat mereka sangat berbahagia.Selama masa itu Sumatera Utara tertutup untuk gereja Katolik oleh aturan Kolonial Belanda dan dengan demikian gereja Protestan berkembang dibeberapa daerah di Sumut.Pada abad 20 Mgr Brans OFM Cap,Apostolik Padang diizinkan menetap di Medan dan dengan begitu misi Katolik terlihat mulai jelas di Sumatera Utara.Pastor Ferdinandus Van Loon PFM Cap, who arrived in Medan dad Netherlands pd date August 20, 1912 was asked to oversee the faith required by the Tamil Community and the end was appointed as Pastor to help Tamil people diperkebunan. In order that the Ministry was effective, he started learning Tamil and went to Penang to develop its language in thn 1913. After a few months in Penang, he returned to the Field late July 1913 and give heart and soul to keep the flock that he loves. After serving them spread diperkebunan within a few months, Van Loon pastor tried to build and deliver learning (school) to the children of their children. Thanks to the Mgr Brans and Provincial land purchased at setapak Capuchins Petisah between JI. Mojopahit and Srivijaya. That is the ditanah that this family dikumpuikan family, a chapel and a residence for the pastor was built in 1914.In March 1915 a semi permanent elementary school was built and inaugurated with 52 tamil children. Because she could not take care of themselves improved jumiah India people he invokes Catholic sisters the sisters to help her take care of her house and sekoiah. Hence the request of dad Mgr Brans .6 sisters dad Konggregasi St. Yoseph dad Amersfoot arrived in Medan on September 28 January 1931 to help Pastor Van Loon in missinya. They work for the people of India and oversees omag sekoiah and child diasrama.The school also functioned as the Church to berliturgi up a bare Church (which is now the parish church dedicated to St. Anthony) was built and blessed in had Sunday at tg 1.14 November 1915 and after a year the home parish church in dikompleks bin added October 1916.With the founding of the Church to the people of India in Hayam Wuruk, the Medan city had 3 of the Church as a whole are:• The Cathedral Church. YouthChurch Of Christ The King. Hakka now JL. archipelago. • The Church Of St. Anthony. Hayam Wuruk.All of this was known at that time as a church for the people of Europe, the Chinese people and the people of India in its functionality because the language of the Netherlands, Chinese and India clashed along with Latin as the language of the liturgy during mass services. But of course in this case is lost because people from other races in this parish. What began as a Mission Center for the communities of India dipermulaan of the 20th century, the parish of Hayam Wuruk has become a large parish with a mixture of many different tribes, and the language of India, China and the Batak. In the early 1970s this Church consists of several Sei Sikambing as stasi, Sunggal, Padang kanBulan and Sei Agul.After a brief story of the history of the parish of Hayam Wuruk, I want to extend my life story in the parish of Hayam Wuruk.Segera setelah pentahbisan imam saya pada 27 Desember 1970,dan sesudah menyelesaikan pelajaran Theology di India,saya mencoba masuk ke Malaysia untuk bermissi,Tetapi visa saya ke Malaysia dicegah sehingga impian saya untuk menjadi missionaries di Malaysia menjadi lenyap.ltulah pada waktunya keuskupan Agung Medan,Mgr Van Den Hurk mengubungi atasan saya dan memohon permisi sehingga saya bisa berkarya di KAM,sehingga pada bulan Mei 1972 saya datang ke Medan dan memulai kehidupan pastoral saya sebagai Pastor Rekan diparoki Hayam Wuruk dalam penggembalaan pst Timmermans dan pst Brans.Saya diberikan mandat khusus oleh Uskup Agung untuk melayani komunitas omag India dalam tugas pastoral saya.Setelah pastor Van Loon meninggal,umumnya orang India yang tinggal di Medan dan orang orang Katolik yang ada di Kp Kristen merasa bagaikan domba tanpa Penggembalaan.Oleh sebab itu,kedatangan saya seolah olah membangkitkan kembali pengharapan untuk masa depan yang lebih baik.Pada permulaan tugas pastoral saya,segalanya berjalan lancar saja dengan kerja sama yang baik dari masyarakat Kp.Kristen.Tetapi waktu saya lihat bahwa komunitas Katolik India ini sedikit terbelakang dalam hal ekonomi,pendidikan,keagamaan dan perbandingan kehidupan social lainnya dengan orang India lain di Medan,saya mau membawa perubahan yang signifikan di Kp.Kristen.Sebagai langkah awal,project pendidikan untuk anak anak direncanakan sebab hanya sebagian dari mereka yang menamatkan tingkat Sekolah Dasar. Sejak pendidikan yang akan membawa perubahan kepada sikap mental, dan membuat harapan yang lebih balk untuk anak anak dan memberikan rasa hornat, saya mendirikan bangunan 2 tingkat mulifungsi di JI.Mataram Medan dengan nama Lembaga Pendidikan Sosial Karya Dharma pada Desember 1973.,dengan pemberkatan dari Uskup Agung dan bantuan dan support dari beberapa masayrakat India di Medan . Bangunan Karya Darma melayani sebagai sekolah dasar dan juga sebagai pusat social dan kegiatan activitas untuk orang orang Kp.Kristen untuk beberapa tahun.Sekolah Karya Darma telah banyak melayani ratusan anak anak India dan sesudah 25 tahun pelayannnya sekolah tersebut diserahkan kepengawasan dari Yayasan Don Bosco dan sekarang difungsikan atas nama SD. St Thomas VNI di JI.Mataram Medan. Saya sangat senang dan bahkan bangga bahwa banyak alumni Karya Dharma sudah masuk Sekolah Tinggi dan bahkan ke Universitas dan sekarang sudah beker]a dibanyak daerah di Indonesia,Dalam usaha saya untuk membawa perubahan sosial dalalm memperbaiki kehidupan Kp.Kristen dengan segala kesusahannya dengan penyebeam keluarga dari sana sehingga mereka dapat belajar untuk hidup dengan suku suku lain diintegritas nasional, saya bertemu dengan perseteruan yang kaku.Bagaimanapun,rencananya sudah sebagian yang berhasil sebab semua yang telah meninggalkan Kp.Kristen sekarang keadaannnya sudah jauh lebih baik,mereka telah mengalami rahmat dan penyebaran dalam kehidupan mereka.Semuanya yang hidup dalam penyeberannya telah menjadi komunitas yang baru untuk beberapa tahun terakhir dan membentuk Persekutuan Doa yang berbasis Komunitas Katolik dengan nama Kumpulan St.Bonaventura Orang Katolik Indonesia. Sangat ironi ! Waktu mereka tinggal berdekatan di Kp.Kristen,waktu itu kurang harmonis,banyak kemiskinan,buta huruf,kemunduran moral dan agama,namun waktu mereka tinggal sating berjauhan,mereka terasa bersatu,harmonis,baik dalam ekonomi,baik dalam pendidikan dan segi agama.Sekarang mereka menikamti arus utama dalam kegiatan Paroki Hayam Wuruk. Saya bersyukur kepada Tuhan atas pengalaman yang pahit dan manis dikehidupan ini.Melihat kemajuan dari Komunit
Being translated, please wait..
